Kucing di Pemukiman: Membuat Jengah tapi Berkah


Sudah sejak lama kucing dekat dengan kehidupan manusia. Selain kucing peliharaan nyatanya di pasar, sekolahan, perkantoran, rumah makan bahkan area pemukiman hampir selalu kita dapat menemukan kucing-kucing liar. Mulai dari kucing yang nampak bersih dan sehat, sampai yang betul-betul penyakitan dan menyedihkan. Kehadirannya sudah tentu menimbulkan tanggapan yang bermacam-macam tergantung pengalaman dan toleransi seseorang terhadapnya. Ada yang membenci ada yang mengasihi, ada yang menganggapnya teman ada yang menginginkannya untuk musnah.

Alasan seseorang tidak menyukai kucing biasanya dimulai saat masa kanak-kanak saat tidak sengaja membuat kucing marah dan akhirnya kucing tersebut mencakar mereka. Setidaknya itu alasan paling klasik yang paling sering saya dengar mengenai mengapa mereka berteriak kesetanan ketika bertemu kucing.


Selain orang-orang yang membencinya atas dasar trauma, sebenarnya tak jarang pula ada kebencian yang timbul dari kebiasaan. Memori mereka tentang kucing selalu buruk, sehingga mereka selalu mengasosiasikan kucing dengan pengalaman yang tidak menyenangkan. Seperti contohnya ketika seorang ibu tiba-tiba jadi super rempong dan memukul-mukulkan sapu ke lantai saat ada kucing yang sudah naik ke meja makan hendak mencuri pindang. Kejadian itu kemudian terekam oleh seorang anak yang kemudian jadi sasaran omelan ibunya, “Kamu ini bagaimana, sih? Makanya tudung saji ditutup lagi kalau sudah selesai makan!”

Belum lagi ketika musim kawin tiba. Gangguan yang dirasakan akan berubah menjadi gangguan telinga. Biasanya kucing jantan yang sedang birahi akan banyak berkeliling mencari betina yang bisa dikawini. Ketika betina incaran mereka direbut pejantan lain atau Si Betina ini tidak mau dikawini, pasti akan terjadi pertengkaran. Alhasil, suara ngeong yang melengking dan bersahutan akan terdengar sangat mengganggu apalagi jika terjadi saat jam-jam istirahat.

Hal menyebalkan lain yang dilakukan kucing liar adalah membuang kotoran sembarangan. Maklum sih, mereka binatang jadi tidak pernah sekolah. Tidak ada yang mengajari mereka untuk buang air di kamar mandi, cuci tangan pakai sabun, apalagi matematika. Tetapi dalam kehidupan per-kucing-an sebenarnya hal itu digunakan sebagai cara mereka menandai wilayah mereka. Kalau mereka buang air di pekarangan kosong mungkin tidak begitu menjadi masalah, tetapi bagaimana kalau mereka mulai buang air di teras, di pot tanaman, di pasir bangunan, atau bahkan di dalam rumah? Alhasil akan terdengar jelas suara ibu-ibu yang muring-muring karena bau. Tapi mau bagaimana lagi? Namanya juga kucing.

Di antara hal-hal yang menyebalkan dan njelehi tentang kucing, nyatanya ia tetaplah hewan yang manis walau sedikit egois. Kucing termasuk hewan yang setia, posisinya ada di runner up karena masih kalah dengan anjing. Kucing bisa mengenali dan hafal orang-orang yang sering ia temui, apalagi yang memberinya makan. Kucing bisa merasakan siapa yang menyukainya (memang agak narsis, tapi mereka memang begitu). Kalau rumah sering didatangi kucing, kemungkinan penghuninya senang dengan kucing entah mau mengakui atau tidak, karena pengakuan itu butuh waktu (cie ... cie ... cie).

Kucing sebenarnya tidak egois-egois amat. Mereka masih punya rasa terima kasih. Saya termasuk orang yang sering memberi makan kucing yang ada di daerah tempat tinggal saya. Saya akui kucing bisa jadi penghabis makanan sisa agar tidak terbuang sia-sia karena mereka cukup nggragas. Pada suatu hari kucing yang sering saya beri makan ternyata berbaik hati memberi saya hadiah. Hadiah yang sungguh romantis. Yah, setidaknya romantis untuk ukuran kucing karena hadiah yang ia beri di depan teras saya adalah tikus mati yang kepalanya sudah buntung. Selain tikus ia juga pernah memberi saya cicak, kadal, burung, belalang dan yang paling ekstrem adalah ular. Jujur, bagi saya yang paling romantis adalah saat dia melindungi saya dari ular yang hampir saja masuk rumah. Saat itu saya baru saja membuka pintu depan dan langsung disambut pemandangan kucing saya yang sedang bermain dengan ular. Untung saja waktu itu dia tidak kepikiran untuk tari perut.


Ada yang pernah memberi tahu saya bahwa kucing bisa memecah aura negatif. Pada dasarnya semua binatang memiliki insting yang tajam. Tetapi insting kucing lebih istimewa karena berkaitan dengan ‘yang halus-halus’. Dengan adanya kucing di rumah atau di sekitar rumah kita, harapannya kita dapat terlindung dari aura-aura negatif tersebut. Kepekaan kucing juga berkaitan dengan emosi. Kucing bisa merasakan apabila tuannya (atau yang ia anggap tuan) sedang sedih, marah atau galau. Biasanya kucing akan bertingkah lucu atau sekadar duduk di pangkuan tuannya. Kucing biasanya mengeluarkan getaran halus yang disebut purring ketika sedang merasa nyaman. Ketika merasakan getaran halus saat kucing berada di dekat kita, maka kita akan merasa sedikit tenang dan aura negatif dari emosi kita bisa terurai.

Kehadiran kucing di daerah tempat tinggal saya juga dirasakan bisa menjadi sarana untuk bersosialisasi dengan tetangga. Semenjak kucing banyak tinggal di gang tempat tinggal saya, tetangga pun jadi ‘ikut-ikutan’ merawat dan memberi makan. Dahulu walau kami bertetangga, kami cukup jarang berinteraksi. Tetapi semenjak banyak kucing di gang ini, kami jadi lebih dekat satu sama lain. Koneksi itu terbentuk karena kami sering membicarakan ulah kucing-kucing itu.

Di antara karakter kucing yang menyebalkan, nyatanya mereka tentu patut untuk dikasihi seperti layaknya makhluk Tuhan yang lain. Ketika kita mau berbagi walau nilainya kecil, maka sesungguhnya kita telah memuliakan hidup makhluk Tuhan dan hidup kita sendiri. Ketika kita memberi kasih maka kasih akan berbalik kepada kita. Ketika kita memberi cinta maka cinta akan berbalik pada kita. Begitulah cara semesta mengajari kita.

Komentar