Postingan

[CERPEN] Ini Bukan Perkara Janji

Gambar
  Aku jadi berpikir, memangnya bisa pikiran manusia menjangkau dunia yang tidak terbatas ini? Menyerap semua ilmu kenyataan beserta rahasia-rahasia alam. Batas-batas buatan justru yang membuat manusia bisa sedikit lega tentang hidupnya. Bayangkan saja, kalau seseorang hendak serius memahami hidupnya, sampai ia mati pun sebagian dari hidupnya belum tentu habis diungkap. Bisa jadi bagian itu baru akan ditemukan oleh anak, cucu, cicit, atau bahkan orang lain. Mengapa harus ada batas yang justru membuat manusia jadi merasa hebat karena telah tahu segala, padahal semesta tak ada batasnya? Ah, bicara apa aku. Repot-repot pula aku mengurus semesta yang bahkan hanya jadi tempatku numpang . Padahal, sekali lagi, batas-batas yang dikarang oleh manusia itu memang perlu, setidaknya untuk rasa lega. Eh ... aduh! Rasanya aku mulai takut. Panggilan teleponku ternyata sudah berakhir. Kami tadi sibuk membicarakan kedai kopi yang kemarin buat tempat kencan, kemudian tiba-tiba aku melamun dan berpiki...

Bintang Pejuang dan Bintang Pecundang

Gambar
Setiap membaca sebuah karya fiksi, atau bahkan melihat kisah-kisah inspiratif di dunia nyata, kita akan cenderung mengagumi sosok-sosok yang kuat. Sudah sesuatu yang natural jika kita sebagai manusia ingin menjadi kuat atau sekadar terlihat  kuat.  Manusia yang dinilai kuat baik dari segi mental ataupun fisiknya cenderung akan lebih dihargai keberadaannya. Lebih dikenal, lebih dihormati, lebih mencuri spotlight  dan lebih-lebih lainnya deh.  Kita mungkin cenderung jadi takut mau macam-macam dengan orang seperti itu. Takut digigit, dihajar, diomeli, dimarahi ... ah, pokoknya kamu jadi takut deh sama orang itu! Tapi sebaliknya, ketika kamu bertemu dengan orang yang lebih lemah darimu pasti (disadari atau tidak, diakui atau tidak) cenderung jadi semena-mena dengan orang tersebut. Sudah jadi kenyataan tak terbantahkan kalau yang kuat akan mengendalikan situasi, yang lemah hanya ikut mencoba beradaptasi. Yah sudah, daripada saya jadi curhat mari kita kembali f...

Pangeran Kaunang: Leluhur Masyarakat Beran yang Terlupakan

Gambar
Semilir angin menyambut kedatangan saya yang baru saja menegakkan standar motor tepat di depan pintu masuk makam. Ketika saya mendongak, dapat terbaca tulisan di tembok gapura makam yang berbunyi, “ Sasonoloyo Beran Kidul ” dan juga kalimat peringatan untuk tidak mencorat-coret yang semakin dipertegas dengan tulisan di bawahnya yang berbunyi ‘ eling pati’ atau ingat mati. Seiring langkah saya yang makin mendekati makam, angin kian kencang berhembus. Saya sedikit dibuat merinding karena angin terasa sangat kencang dan dingin tetapi dedaunan di sekitar saya seolah sungkan untuk bergerak.   Makam Pangeran Kaunang sebenarnya dijadikan satu dengan pemakaman umum sehingga orang awam akan menganggap makam ini sekadar kompleks pemakaman biasa. Padahal, ada sosok penting dalam perkembangan Kerajaan Mataram Islam yang dimakamkan di sini. Hal yang membedakan antara makam Pangeran Kaunang dan makam masyarakat sekitar adalah keberadaan cungkup atau bangunan beratap pelindung makam yang serupa d...

[PUISI] Suatu Perjalanan Lewat Ringroad Batas Kota

Gambar
Di suatu perjalanan. Kendarai motor kesayangan. Polisi tidur bikin mengaduh. Punggungku kaku-kaku. Sudah bertahun tak berkendara jauh.   Di suatu perjalanan. Menikmati hembus knalpot. Dengar klakson hampir dada copot. Memandang lewat kacamata buram. Pengendara brengsek kumaki diam-diam.   Di suatu perjalanan. Singgah pinggir terminal. Mengantre beli bekal. Duduk di trotoar. Dekat situ orang kencing mengendap. Pantas bau tak sedap.   Di suatu perjalanan. Sudah mulai gelap. Berkebut kendaraan besar. Hampir saja aku terhempas. Di suatu perjalanan. Lintasi jalan perdesaan. Jalanku disumbat truk. Lewat samping aku menyusup. Akhirnya bisa masuk. Walau rumput banyak tersangkut. Di suatu perjalanan. Aku duduk di persinggahan. Kusantap nasi dan ayam. Kuminum soda limun. Padahal sedang asam lambung.   Di suatu perjalanan. Aku mandi di sendang. Banjir sepinggang. Merinding juga begini gelap-gelap.   Di suatu perjalanan. Aku menengadah. Kusadari gelap malam sung...

Rumah Joglo: Pemikiran dan Doa yang Berdiri Kokoh

Gambar
Rumah joglo sejak zaman dahulu hingga sekarang masih kokoh berdiri di antara bangunan-bangunan di sekitarnya yang sudah bergaya modern. Joglo memang mempunyai fungsi utama sebagai hunian, tetapi fungsinya di zaman modern ini mengalami perkembangan. Bangunan joglo memiliki arsitektur khas yang oleh masyarakat dianggap memberi kesan tradisional, sederhana dan homey . Semakin hari banyak bermunculan konsep rumah makan, penginapan, kafe, dan tempat-tempat wisata yang menggunakan bangunan joglo sebagai daya tariknya. Di antara bangunan modern yang eksis, nyatanya unsur kesederhanaan dan tradisi yang dimiliki rumah joglo dapat menawarkan sensasi bersantai yang tidak dapat dirasakan saat berada di bangunan modern. Eksistensi langgeng bangunan ini di masa kini menawarkan persinggahan dari kehidupan modern yang serba gemerlap dan cepat. Meskipun arsitektur Jawa maupun ilmu Jawa secara keseluruhan seringkali dianggap remeh dan ketinggalan zaman, namun nyatanya kekhasan, nilai estetik...