Pangeran Kaunang: Leluhur Masyarakat Beran yang Terlupakan
Semilir angin menyambut kedatangan saya yang baru saja menegakkan standar motor tepat di depan pintu masuk makam. Ketika saya mendongak, dapat terbaca tulisan di tembok gapura makam yang berbunyi, “Sasonoloyo Beran Kidul” dan juga kalimat peringatan untuk tidak mencorat-coret yang semakin dipertegas dengan tulisan di bawahnya yang berbunyi ‘eling pati’ atau ingat mati. Seiring langkah saya yang makin mendekati makam, angin kian kencang berhembus. Saya sedikit dibuat merinding karena angin terasa sangat kencang dan dingin tetapi dedaunan di sekitar saya seolah sungkan untuk bergerak.
![]() |
Makam Pangeran Kaunang sebenarnya dijadikan satu dengan pemakaman umum sehingga orang awam akan menganggap makam ini sekadar kompleks pemakaman biasa. Padahal, ada sosok penting dalam perkembangan Kerajaan Mataram Islam yang dimakamkan di sini. Hal yang membedakan antara makam Pangeran Kaunang dan makam masyarakat sekitar adalah keberadaan cungkup atau bangunan beratap pelindung makam yang serupa dengan rumah kecil.
Makam ini terletak persis di tepi Jalan PJKA yang berada di Dusun Beran Kidul, Kecamatan Tridadi, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Belum lagi, letaknya yang 30 meter di atas Sungai Gayam, membuat makam ini sedikit lebih mengerikan dari kompleks makam lainnya. Ketika mengintip dari balik pagar tembok yang mengelilingi makam, bisa terlihat langsung jurang yang cukup dalam. Lingkungan sekitar makam ini juga banyak ditumbuhi pohon-pohon besar. Salah satu pohon yang paling tua adalah pohon randu alas yang tingginya kira-kira 60 meter. Pohon tersebut merupakan penanda alam kompleks pemakaman ini.
Siang itu saya tidak sendiri, saya ditemani oleh mantan guru SMA saya Bapak Pujiyanto dan dua orang teman. Bapak Pujiyanto lahir dan besar di Beran, selain itu beliau juga seorang praktisi budaya jawa sehingga beliau tahu persis tentang sejarah makam ini.
Pangeran Kaunang adalah salah satu dari tangan kanan Panembahan Senopati. Ia diberi kepercayaan untuk mengatasi masalah pembebasan lahan untuk ekspansi wilayah Kerajaan Mataram Islam. Wilayah tersebut nantinya akan dijadikan pusat Kerajaan Mataram Islam. Saat itu masalah utama ada di Alas atau Hutan Mentauk (sekarang wilayah sekitar Pasar Bringharjo). Selain permasalahan dengan hal-hal yang kasatmata, ternyata ada masalah dengan yang tak kasatmata.
Salah satu pihak yang tidak terima lahan hutan tersebut dijadikan wilayah pusat Kerajaan Mataram Islam adalah dari bangsa jin. Jin itu adalah jin besar bernama Kandeloksi. Pangeran Kaunang diberikan amanah untuk melakukan pendelegasian dan mengatasi masalah terkait jin tersebut. Tetapi proses itu berjalan dengan sangat alot sehingga Pangeran Kaunang harus melakukan pengejaran terhadap jin tersebut. Rute penegejaran jin itu cukup jauh, dimulai dari Alas Mentauk, lalu terus ke utara melewati Kutu (sekarang wilayah sekitar Jalan Magelang), Jombor (dahulu merupakan telaga), Wanalaksita (hutan Mlati) hingga sampai ke Mulungan (sekarang wilayah Kecamatan Mlati).
Jin tersebut memberi syarat bagi Pangeran Kaunang. Jika Pangeran Kaunang mau memberikan lidahnya kepada Kandeloksi maka ia akan mengalah dan membiarkan hutannya dijadikan wilayah Kerajaan Mataram Islam. Tetapi Pangeran Kaunang cukup cerdas untuk tidak jatuh dalam tipuan tersebut. Ia tahu benar jika ia menyerahkan lidahnya, ia akan mati. Pangeran Kaunang dengan tegas menolak persyaratan itu, akhirnya pecahlah pertempuran antara mereka. Pertempuran itu akhirnya dimenangkan oleh Pangeran Kaunang sehingga kerajaan Mataram Islam dapat memperluas wilayahnya sampai Medari juga Tempel.
Setelah itu, Pangeran Kaunang memilih untuk sanggrah di Berau (sekarang Beran) dan membuat daerah pemukiman di sana sampai akhirnya Pangeran Kaunang tutup usia di Beran sehingga ia dimakamkan di sana. Di dalam cungkup makam Pangeran Kaunang tidak hanya terdapat satu makam, melainkan ada beberapa makam di dalamnya. Makam-makam lainnya adalah keluarga dekat Pangeran Kaunang. Bahkan sebagian percaya bahwa pusaka dari Pangeran Kaunang ikut dimakamkan di sana.
Bapak Pujiyanto selanjutnya menceritakan bahwa di daerah Beran khususnya, sudah tidak ada hari-hari upacara peringatan untuk mengingat jasa Pangeran Kaunang yang merupakan leluhur masyarakat Beran. Beliau amat menyayangkan generasi zaman sekarang yang hanya sekadar ingin hidup di masa sekarang padahal masa sekarang tidak akan ada tanpa adanya masa lalu.
Masalah itu juga sering menjadi pertanyaan dalam benak saya, mengapa anak turun hanya sibuk menutupi aib leluhurnya, sedangkan mereka tak pernah ingin meneladani nilai keluhuran para leluhurnya? Kisah Pangeran Kaunang hanya diketahui oleh pemerhati dan praktisi budaya. Jasanya tidak banyak diketahui karena ia tidak sepopuler Panembahan Senopati.
Saya rasa sebenarnya angin yang menyambut saya saat pertama datang ke makam ini adalah cara beliau berterima kasih karena masih diingat jasanya dan masih ada anak muda yang ingin tahu tentangnya. Angin itu membawa pesan kesedihan yang tak mampu lagi disampaikan. Karena ketika telah lenyap memori tentangnya di bumi ini, maka makam itu hanya akan sekadar jadi makam pinggir jalan atau bahkan adanya makam tersebut tak akan berarti lagi karena tak ada lagi yang mau menyambangi.




Komentar
Posting Komentar