Bintang Pejuang dan Bintang Pecundang
Pejuang dan Pecundang
Kekuatan adalah satu hal yang diperlukan untuk disebut kuat. Kekuatan bisa datang dari banyak sumber, tinggal apa yang akan dan yang bisa dijadikan kekuatan oleh diri masing-masing orang. Kita bisa kuat karena dipaksa keadaan untuk kuat. Kita bisa kuat karena dituntut orang lain untuk kuat. Kita bisa kuat karena memaksa diri kita untuk bertahan hidup dengan berusaha menjadi kuat.
Untuk menerangkan tentang kekuatan, saya akan ambil contoh yang jenaka-jenaka saja, tidak perlu serius-serius amat, namanya juga bacaan santai.
Bayangkan saja hewan kerbau. Kerbau adalah hewan yang selalu saja jadi sasaran untuk ngatain orang lain yang jelek-jelek. Terlalu banyak tidur? Kerbau. Terlalu lamban? Kerbau. Terlalu jarang mandi? Kerbau. Tapi kenapa dia dicap jelek padahal dia hewan yang tenaganya justru membantu sepiring nasi bisa ada di meja makanmu?
Terkadang yang namanya kekuatan bisa dipandang menjadi sesuatu yang destruktif dan menyeramkan, kerbau salah satunya. Kekuatan utama yang dimiliki kerbau adalah tenaganya yang kuat dan tanduknya yang bisa mengintimidasi. Gini, deh. Memangnya kalian sudi diseruduk kerbau sekuat itu? Tidak, kan? Saya sih tidak mau. Tapi saya tidak melarang kalian kalau ingin uji kekuatan dengan kerbau, kok. Sans.
Walaupun begitu, kerbau menggunakan kekuatannya lebih banyak untuk memberi manfaat bagi manusia sebagai balas budinya yang sudah memberi makan dan tempat tinggal. Kekuatannya akan jadi seram dan berbahaya ketika dia mengamuk atau harus membela diri. Hal yang bisa diambil dari ilustrasi tadi adalah bagaimana dampak dari kekuatan bisa merusak atau justru membawa berkah tergantung bagaimana cara kita memanfaatkan kekuatan tersebut.
Kekuatan akan mendatangkan kebaikan apabila dimanfaatkan untuk kebaikan. Sebaliknya, apabila kekuatanmu digunakan untuk tujuan yang tidak mulia maka kebaikan tidak akan datang padamu.
Kekuatanmu hanya sampai pada tahap “horeee ... aku berkuasa” jika kamu hanya gunakan kekuatan atau kelebihanmu untuk pamer, memanipulasi atau bahkan mengeksploitasi orang lain. Hal ini di awal mungkin akan mendatangkan kepuasan tertentu bagi praktisinya; dihargai, disegani atau bahkan ditakuti. Tapi ketika kekuatan hanya mendatangkan manfaat untuk diri sendiri, sebagai manusia yang tidak pernah merasa puas, hal ini justru akan mendatangkan masalah baru yaitu rasa hampa. Apa bahayanya hati yang hampa? Kamu sangat mungkin akan mencari segala cara untuk membuat dirimu bisa puas. Lho, kenapa bahaya? Jelas berbahaya karena cara mencari kepuasannya cenderung merugikan.
Belum lagi jika posisimu di hati orang-orang sekitarmu hanya dipandang sebagai penguasa, maka ketulusan orang-orang tersebut bisa jadi berkurang. Ketulusan mungkin kata-kata yang terdengar omong kosong dan tak ada standar atau satuan yang jelas untuk mengukurnya. Tapi apapun jika dikerjakan dengan tulus pasti hasilnya akan mulus. Lalu kenapa orang-orang itu bisa tidak tulus lagi padamu? Karena tindakan yang mereka lakukan padamu adalah dampak dari tekanan yang kamu berikan. Sederhananya, mereka berbuat baik padamu bukan karena ingin berbuat baik tapi karena merasa harus begitu. Alasan yang mengharuskan mereka untuk melakukan apa yang kamu minta adalah rasa takutnya dengan kekuatanmu. Mungkin akan terdengar menguntungkan, tapi masalahnya hidup ini tidak selamanya sempurna. Dalam kondisi tertentu bahkan kamu bisa kehilangan semuanya ketika pengaruhmu tiba-tiba berkurang atau bahkan hilang.
Nah, yang lebih parah lagi, tidak jarang kekuatan yang tidak digunakan untuk kepentingan sesama itu justru bisa mengundang godaan untuk melakukan niat jahat. Karena kekuatanmu hanya untuk dirimu sendiri dan merasa sudah paling superior, maka kamu akan merasa terusik kalau ada yang hendak “mencuri” posisimu. Kekuatan pada dasarnya bisa membutakan hati, dengan kekuatan itu justru kamu gunakan untuk menjatuhkan orang lain. Memang mungkin kamu akan dianggap lebih berkuasa dan kuat karena itu. Tapi kamu kehilangan sesuatu yang penting yaitu rasa welas asih atau rasa kasih sayang. Ketika manusia kehilangan itu maka hidupnya akan dipenuhi nafsu. Karena hidupnya hanya dikendalikan oleh nafsu maka hidupnya jadi tidak damai dan orang lain akan terus memandanginya curiga dan jadi membenci kekuatan orang tersebut. Alhasil? Kekuatannya tak lagi memiliki dampak yang kuat selain dampak yang dinilai mengusik dan merusak.
Lain halnya jika kekuatan yang kamu punya diluruskan niatnya untuk digunakan sebagai sarana menolong orang lain. Kamu gunakan kekuatanmu untuk memberi harapan baru bagi yang kehilangan harapan, kamu gunakan kekuatanmu untuk meringankan beban orang yang hilang arah, kamu gunakan kekuatanmu untuk membesarkan hati orang yang putus asa. Kekuatanmu tidak akan berkurang, bahkan justru jadi bertambah. Kamu akan mendapatkan hal-hal baru dari orang-orang yang kamu tolong. Kamu bisa ikut belajar dari memandangi cara pikiran orang lain bekerja. Kamu pun bisa mendapatkan kasih sayang dan rasa hormat dari orang yang kamu beri manfaat. Walau perlu diketahui, tidak semua yang ingin kamu bantu mau dibantu, tidak semua yang kamu bantu tahu diri. Sebelum ingin bermanfaat bagi orang lain, kita jangan sampai lupa bahwa tidak semua orang memiliki hati yang sama dengan kita.
Kamu tidak akan bercahaya jika tidak ada kegelapan. Kamu tidak akan dipandang kuat jika tidak ada yang lemah. Tapi tugasmu sebagai orang yang memiliki kekuatan (apapun itu) adalah membawa orang lain untuk jadi sejajar denganmu atau malah melampauimu. Walau kekuatanmu mungkin jadi tersaingi, tapi berkah dan kasih yang dirasakan juga rasa terima kasih dari orang yang kamu bantu akan membuatmu dikenang.
Kamu tidak akan kuat jika tidak ada yang mengakuimu sebagai orang yang kuat. Tapi perlu diingat juga, kamu kuat karena pernah lemah. Kita ada dari ketidakadaan lalu menjadi kelemahan. Tapi oleh kekuatan cinta kasih orang-orang sekitar, kebaikan Tuhan yang memberi segala masalah sehingga memaksamu untuk jadi lebih kuat, dan keteguhan hatimulah kekuatan itu bisa bertransformasi jadi kekuatan.
Tetapi ada poin yang perlu diingat juga. Mari kita ambil contoh untuk kasus ini melalui suatu alat yang umum digunakan yaitu pisau. Pisau adalah alat yang diciptakan untuk maksud yang baik. Sebagai alat bantu manusia untuk melakukan beberapa kegiatan seperti memasak, berkemah, membuat karya seni, pertahanan diri sampai sekadar barang koleksi. Memang, bentuknya tajam dan bisa melukai tapi jika digunakan semestinya maka akan sangat bermanfaat. Lain halnya jika pisau itu digunakan untuk hal-hal yang tidak baik seperti meneror, membunuh, menyiksa atau mengancam. Pisau menjadi kehilangan tujuan awalnya sebagai alat bantu yang penting bagi kehidupan manusia. Pisau pada ilustrasi ini bisa dipandang sebagai kekuatan. Maka, kekuatan yang baik jika tidak diimbangi dengan niat dan perilaku yang baik maka juga tidak akan mendatangkan kebaikan.
Kekuatan dimiliki semua orang, walau tidak semua orang mampu menemukannya. Seseorang bisa menggunakan kekuatannya hingga ia bisa jadi sosok pejuang atau menggunakannya hingga ia justru jadi pecundang. Dua kemungkinan ini adalah kedua hasil yang kontradiksi seperti pembahasan di atas. Siapapun yang bisa memanfaatkan kekuatannya untuk menolong orang lain, memberi manfaat bagi orang lain dan megarahkannya untuk maksud kebaikan akan menjadi pejuang sesungguhnya, sedangkan orang yang menggunakan kekuatannya untuk menindas, menjatuhkan atau memanipulasi orang adalah bentuk nyata dari sosok pecundang. Pejuang akan terus dirindukan dan dikenang sedangkan pecundang hanya senantiasa merasa curiga dan tidak damai. Apapun itu, pilihan ada di diri masing-masing.
Life is a choice.
Komentar
Posting Komentar