Rumah Joglo: Pemikiran dan Doa yang Berdiri Kokoh
Rumah joglo sejak zaman dahulu hingga sekarang masih kokoh berdiri di antara bangunan-bangunan di sekitarnya yang sudah bergaya modern. Joglo memang mempunyai fungsi utama sebagai hunian, tetapi fungsinya di zaman modern ini mengalami perkembangan. Bangunan joglo memiliki arsitektur khas yang oleh masyarakat dianggap memberi kesan tradisional, sederhana dan homey. Semakin hari banyak bermunculan konsep rumah makan, penginapan, kafe, dan tempat-tempat wisata yang menggunakan bangunan joglo sebagai daya tariknya. Di antara bangunan modern yang eksis, nyatanya unsur kesederhanaan dan tradisi yang dimiliki rumah joglo dapat menawarkan sensasi bersantai yang tidak dapat dirasakan saat berada di bangunan modern. Eksistensi langgeng bangunan ini di masa kini menawarkan persinggahan dari kehidupan modern yang serba gemerlap dan cepat.
Meskipun arsitektur Jawa maupun ilmu Jawa secara keseluruhan seringkali dianggap remeh dan ketinggalan zaman, namun nyatanya kekhasan, nilai estetika dan juga makna filosofis di dalamnya masih senantiasa eksis dan turut tumbuh mengiringi perkembangan zaman. Sebagaimana juga ilmu Jawa (kejawen) atau kapitayan taya, pada dasarnya eksistensi bangunan Joglo merupakan bagian dari ajaran kearifan yang diturunkan kepada generasi-generasi berikutnya.
Tulisan sederhana ini akan membahas pandangan dunia orang Jawa serta nilai-nilai filosofis yang terkandung dalam bangunan joglo yang dapat disatukan berkat pembacaan buku dan jurnal-jurnal terkait. Sebelum masuk ke pembahasan yang lebih wangun dan edukatif mari kita memahami terlebih dahulu apa itu filsafat Jawa.
Sri Sultan Hamengkubuwana X memaknai filsafat sebagai hasil perenungan jiwa manusia melalui pandangan reflektif yang mendasar, mendalam, dan menyeluruh sebagai pandangan hidup manusia (Achmad, 2017: 8).
Melalui pengertian tersebut, selanjutnya Filsafat Jawa dimaknai sebagai pandangan arif masyarakat Jawa dalam mencapai kesempurnaan. Filsafat Jawa memiliki perbedaan dengan filsafat barat dari segi titik perhatiannya. Filsafat Jawa memiliki fokus utama pada dunia spiritual dan metafisika. Filsafat Jawa cenderung membahas hubungan yang bersifat kosmis. Dalam hal ini, manusia dipandang sebagai sesuatu yang mikrokosmis yang dalam bahasa Jawa disebut jagad alit dengan Tuhan yang dipandang sebagai sesuatu yang makrokosmis atau dalam bahasa Jawa disebut jagad ageng. Filsafat jawa menekankan sangkan paraning dumadi yang berarti Tuhan sebagai asal dan tujuan kehidupan manusia (Achmad, 2017: 8-9).
MEMAHAMI PANDANGAN DUNIA ORANG JAWA
Magnis Suseno (via Kartono, 2005: 125-127) membedakan pandangan dunia masyarakat Jawa menjadi 4 unsur yang berkaitan dengan unsur ilahi dan adikodrati. Unsur tersebut antara lain, kesatuan numinus antara alam, masyarakat dan alam adikodrati, kesatuan numinus dengan kekuasaan, dasar numinus keakuan, dan kepercayaan dan atau kesadaran akan takdir. Kesatuan dengan yang ilahi yang disebut numinus berasal dari kata numen artinya cahaya ilahi atau adikodrati. Kesatuan numinus merujuk pada suatu keadaan jiwa (state of mind) yang mampu menghubungkan realitas dengan gejala-gejala adikodrati yang dialami dengan perasaan penuh misteri, kekaguman, takut dan cinta.
Pandangan dunia masyarakat Jawa antara alam, masyarakat, dan alam adikodrati ditunjukkan mereka percaya ada suatu kekuatan gaib yang mengendalikan alam, kekuatan ini muncul secara jelas pada saat-saat terjadinya bencana. Orang Jawa dilahirkan dan dibesarkan dalam lingkungan masyarakatnya, yang di dalamnya mereka dapat belajar dan membaca bahasa alam untuk bertahan hidup. Kesatuan ini lebih lanjut diwujudkan oleh masyarakat Jawa melalui upacara-upacara ritual yang digunakan untuk menghormati dan menjaga keseimbangan unsur-unsur tersebut.
Pandangan dunia masyarakat Jawa mengenai kekuasaan adalah ungkapan energi ilahi yang tanpa bentuk, suatu kekuatan yang berada dimana-mana. Pusat kekuatan itu berpusat pada raja. Konsep kerajaan jawa adalah suatu lingkaran konsentris yang mengelilingi sultan sebagai pusatnya. Lingkungan yang terdekat dengan sultan adalah keraton. Lingkaran yang kedua yang mengitari keraton adalah ibukota negara, lingkungan ketiga adalah negaragung yang secara harafiah berarti ibukota yang besar, lingkaran terakhir adalah mancanegara atau negara asing (Soemardjan via Kartono, 2005: 126).
Pandangan dunia masyarakat Jawa mengenai keakuan terkait dengan orang Jawa sepanjang hidupnya akan berusaha untuk menemukan dasar ilahi, usaha untuk mencari realitas diri ini tersirat dalam istilah manunggaling kawulo lan gusti atau mencari sangkan paraning dumadi. Pengalaman manusia Jawa dalam mencari dasar ilahi keakuannya pada akhirnya akan membentuk sebuah pengertian tentang asal dan tujuan segala mahluk hidup.
Pandangan dunia orang Jawa terhadap kepercayaan atau kesadaran akan takdir berkaitan dengan kesadaran bahwa skenario hidup manusia sudah ditetapkan dan tidak bisa dihindari. Hidup atau mati, nasib buruk dan penyakit merupakan nasib yang tidak dapat dilawan. Menentang nasib hanya akan mengacaukan keselarasan kosmos. Setiap orang mempunyai tempat yang spesifik yang sudah ditakdirkan, tempat ini ditentukan secara jelas melalui kelahiran, kedudukan sosial dan lingkungan geografis. Pemenuhan kewajiban kehidupan yang spesifik sesuai dengan tempatnya masing-masing akan mencegah konflik, sehingga dicapai ketentraman batin dan keseimbangan dalam masyarakat serta kosmos.
Lebih lanjut, pandangan filsafat orang jawa digunakan sebagai sarana untuk mencapai kesempurnaan. Filsafat jawa memiliki kecenderungan untuk berputar pada wilayah metafisika dan mempersoalkan eksistensi dzat tertinggi. Dzat tersebut dipahami sebagai sesuatu yang menentukan proses perubahan. Perubahan tersebut antara lain keberadaan manusia dimulai dari alam kandungan, kelahiran, tumbuh dan berkembang menjadi dewasa, menua, dan berakhir kematian.
Kesempurnaan dalam pandangan orang Jawa menjadikan watak raksasa dalam diri menjadi manusia sempurna. Orang Jawa memiliki pandangan bahwa mereka memiliki sedulur papat atau empat hawa nafsu antara lain aluamah, supiyah, amarah dan mutmainah. Hal tersebut harus mampu dikuasai dan dikendalikan oleh manusia agar dapat dekat dengan sedulur pancer atau yang dipahami sebagai Tuhan.
Selain mencapai kesempurnaan, filsafat Jawa juga dijadikan sebagai sarana untuk mendapatkan kearifan. Untuk dapat memperoleh keluhuran atau kearifan, manusia diharapkan dapat memperhatikan sikap-sikap sembada, sabar, andhap asor, suka, karep, dalan padhang, tan jiguh, tan ngutuh, dan tan kumed (Achmad, 2017: 10-14).
Sikap sembada merupakan sikap positif yang mendorong manusia untuk dapat melaksanakan dan menyelesaikan tugas dan pekerjaannya dengan baik dan tepat waktu. Orang yang memiliki watak ini akan mendapat kepercayaan dari orang lain dan senantiasa dipermudah rezekinya.
Sikap sabar adalah salah satu cara untuk menggapai ketenangan hati. Dengan hati yang tenang manusia dapat menekan hawa nafsunya. Dengan nafsu yang terkendali, manusia dapat selamat dari segala bahaya di sekitarnya. Segala sesuatu akan diperoleh pada masa yang tepat jika manusia memiliki sifat ini.
Sikap andhap asor atau yang dalam bahasa Indonesia berarti rendah hati adalah sifat yang dapat membuat orang sekitar menjadi sayang dan cinta. Dengan mendapatkan cinta kasih dari sesama, keberhasilan menjadi mudah untuk diraih karena manusia akan lebih mudah untuk mendapat bantuan dari sesamanya. Dengan menumbuhkan sifat ini, manusia menjadi dipandang sebagai seseorang yang berilmu tinggi karena tidak ada sifat sombong.
Sikap suka atau gembira merupakan emosi yang positif. Dengan rasa suka, manusia akan melakukan aktivitasnya tanpa adanya rasa terbebani. Sehingga manusia yang memiliki sikap ini akan cenderung awet muda dan sehat jasmani dan rohani.
Karep dipahami sebagai keinginan. Tanpa memiliki keinginan maka manusia dapat dikatakan mati. Ketika masih hidup manusia tentu memiliki keinginan, baik keinginan yang mulia maupun keinginan yang jahat. Akan tetapi, ajaran Jawa mengajarkan manusia untuk senantiasa memiliki keinginan untuk berbuat mulia seperti tolong menolong, berderma, mendekatkan diri pada ilahi dan sebagainya.
Dalam pandangan jawa, manusia harus selalu mencari jalan terang yang dalam bahasa Jawa disebut dalan padhang. Mencari jalan terang di sini berkaitan dengan mencari petunjuk Tuhan sehingga manusia dapat memiliki nilai-nilai kebajikan dan tidak tersesat dalam kemaksiatan dan kejahatan.
Tan jiguh adalah sikap tidak ragu-ragu. Sikap ini dapat menjadi modal utama untuk menggapai kesuksesan karena berperan penting sebagai faktor utama seseorang mendapatkan apa yang diinginkan.
Tan ngutuh adalah sikap tahu malu. Dengan memiliki sikap ini, seseorang akan menghindari perbuatan hina seperti melakukan maksiat atau mencuri. Selain itu, pemilik sikap tahu malu akan menghindri perbuatan melanggar etika dan norma-norma yang berlaku di masyarakat.
Sikap tan kumed atau dalam bahasa Indonesia disebut tidak pelit adalah sikap lain yang harus dipelihara. Dengan tidak pelit kepada sesama, maka manusia akan dikenal sebagai sosok yang dermawan. Seseorang yang suka memberi nikmatnya tidak akan dikurangi, tetapi justru dilipatgandakan rezekinya. Sebab siapa yang suka memberi akan menerima.
ASAL USUL BANGUNAN JOGLO
Rumah Joglo adalah bangunan tradisonal khas Yogyakarta dan Jawa Tengah. Bangunan ini memiliki fungsi utama sebagai tempat hunian. Ciri utama bangunan ini adalah memiliki saka guru (empat tiang utama penyangga bagian atas dengan formasi persegi), bagian bawah saka guru ditopang umpak atau bebatur dari bahan batu, dan tumpang sari yang berupa susunan balok yang disangga oleh saka guru.
Arsitektur Jawa tercatat telah berkembang sejak masa pemerintahan Samaratungga hingga Pramodhawardhani di Medang i Bhumi Mataram yang membangun Candi Borobudur dan masa pemerintahan Mpu Manuku Rikai Pikatan yang membangun Candi Prambanan. Namun, pada perkembangannya arsitektur Jawa juga dipengaruhi oleh kebudayaan Islam, Tionghoa, Belanda dan Arab sehingga bentuk rumah adat Jawa tidak sama persis dengan bangunan-bangunan candi di masa Hindu-Buddha.
Rumah adat Jawa memiliki lima jenis, yaitu panggampe (bangunan dengan atap hanya sebelah sisi), kampung (bangunan dengan atap dua belah sisi, satu bubungan di tengahnya), limasan (bangunan dengan atap empat belah sisi dan bubungan di tengahnya), joglo atau tikelan (memiliki saka guru dengan pemidangannya dan berblandar tumpang sari, atap empat belah sisi, dan bubungan di tenganya) dan tajug (bangunan dengan saka guru dan atap empat belah sisi, tanpa bubungan dan meruncing) (Achmad, 2017: 42-43).
Menurut suatu naskah tentang rumah Jawa koleksi museum pusat Dep. P&K No.Inv.B.G.608 disebutkan bahwa rumah orang Jawa pada mulanya dibuat dari bahan batu, teknik penyusunannya seperti batu-batu di bangunan candi. Perkembangan sejarah joglo tidak dapat dilepaskan dengan keterkaitannya pada bangunan purba yang disebut punden berundak. Punden berundak merupakan bangunan suci pada zaman purba yang berciri memusat semakin ke atas semakin kecil. Struktur dan bentuk rumah joglo memiliki kesamaan dengan struktur dan bentuk candi Hindu, bahkan beberapa ahli berpendapat bahwa rumah joglo merupakan bentuk transformasi dari candi.
NILAI FILOSOFIS RUMAH JOGLO
Menurut ragam bentuk arsitektur Jawa, hanya bangunan berjenis kampungan, limasan, dan joglo saja yang bisa dijadikan sebagai tempat hunian. Dalam bahasa Jawa, kata omah berarti rumah yang berasal dari kata “om” yang berarti langit dan “mah” yang berarti tanah memiliki makna filosofis “kesatuan kosmis antara makrokosmis dan mikrokosmis”. Rumah memiliki padanan makna kata dengan griya. Dalam masyarakat Jawa, griya dimaknai sebagai tempat berlindung atau berteduh sementara bagi penghuninya. Dengan demikian, rumah memiliki makna filosofis sebagai dunia yang disinggahi manusia hanya untuk sementara sejak kelahiran hingga kematiannya (Achmad, 2017: 166).
Bangunan tradisional khususnya Joglo memiliki nilai-nilai filosofis yang mengiringi eksistensinya. Banguna Joglo memiliki tiga bagian utama yaitu pendhapa, pringgitan dan dalem. Selain tiga bagian tersebut, ada pula bagian lain yang tak kalah penting yaitu senthong, gandhok dan pawon. Bagian ini akan menguraikan keseluruhan makna filosofis yang terkandung dalam bagian bangunan joglo dan juga jenis ukiran yang biasanya ada di bangunan joglo.
Bangunan rumah tradisional dapat dilihat dalam dua skala, yaitu skala horizontal dan vertikal. Skala horisontal terkait dengan ruang beserta pembagiannya, sedangkan skala vertikal menitikberatkan pada pembagian bangunan rumah seperti lantai dasar yang disebut kaki (umpak, bebatur), tubuh (tiang, dinding) dan bagian atas yaitu kepala atau atab.
Dalam skala horizontal pembagian ruang rumah terdiri lima ruang. Ruang dalem posisinya tepat di tengah, diapit bagian depan oleh ruang pendhapa-pringgitan, dan diapit bagian belakang oleh ruang gadri–pawon. Sementara bagian kiri dan bagian kanan ruang dalem terdiri ruang gandhok kiri dan gandhok kanan. Struktur ini merupakan transformasi dari struktur alam (kosmologi) berupa empat arah mata angin, yaitu: (U) utara, (S) selatan, (T) timur dan (B) barat, dan satu titik pusat di tengah, yang merupakan persinggungan ke empat arah mata angin tersebut. Dalam terminologi Jawa, struktur ini disebut papat kiblat lima pancer (Djono, dkk., 2012: 272).
Skala vertikal dalam konteks ini dimengerti sebagai struktur tegak yang merupakan sebuah oposisi antara dunia transenden (immaterial) dengan dunia imanen (material). Dalam konteks mistik kejawen, struktur atas adalah bagian puncak yang merepresentasikan kegaiban, sedangkan struktur horizontal atau bagian bawah adalah tempat manusia melakukan kehidupan. Struktur vertikal dalam pandangan hidup orang Jawa secara alamiah (kosmologis) disarikan dari kundalini yoga, juga pada serat wirid hidayat jati. Tataran tujuh dari bawah ke atas seperti tercermin dalam struktur alam yaitu: tanah, air, api, udara, ether, ajna, dan roh. Tataran serat wirid hidayat jati yang menggambarkan proses tahapan kesempurnaan dumadining dzat dari bawah ke atas terdiri atas kijab atau dinding jalal, darah, dammar, roh, kaca, nur, dan yang paling atas kaju (Djono, dkk., 2012: 272).
Dalam bangunan Joglo terdapat penerapan prinsip hierarki dalam pola penataan ruangnya. Setiap ruangan memiliki perbedaan nilai, ruang bagian depan bersifat umum (publik), dan bagian belakang bersifat khusus (pribadi/privat).
Bagian pertama pada bangunan joglo adalah pendhapa. Pendhapa berada di bagian depan rumah joglo. Bangunan ini memiliki bagian terbuka yang difungsikan oleh tuan rumah sebagai tempat untuk menyambut dan menerima tamu yang datang. Umumnya, bagian bangunan joglo ini memiliki bentuk persegi. Denah bentuk segi empat selalu diletakkan dengan sisi panjang ke arah kanan-kiri rumah sehingga tidak memanjang ke arah dalam, tetapi melebar ke samping (Indrani via Achmad, 2017: 167)
Bentuk pendhapa yang terbuka tanpa pembatas pada keempat sisinya memiliki makna sikap keterbukaan pemilik rumah kepada siapapun yang bertamu ke rumahnya. Bagian ini juga biasanya dibangun lebih tinggi yang melambangkan penghormatan kepada tamu-tamu yang datang.
Bentuk pendhapa tersebut juga memperlihatkan adanya makna ruang yang dalam sebagai perwujudan konsep kerukunan dalam gaya hidup masyarakat Jawa. Pendhapa dipahami bukan sekadar tempat, namun lebih lanjut bagian ini dipahami sebagai aktualisasi bentuk atau konsep kerukunan antara penghuni dengan kerabat dan masyarakat sekitarnya (Hidayatun via Achmad, 2017: 167).
Selanjutnya adalah ruang transisi antara pendhapa dan dalem ageng yang disebut pringgitan. Tempat ini memiliki makna tempat bagi sang pemilik rumah untuk memperlihatkan diri sebagai wayang atau bayang-bayang. Manusia diibaratkan sebagai wayang yang kehidupannya telah ditentukan oleh Sang Dalang yaitu Tuhan. Tempat inilah yang juga digunakan oleh masyarakat Jawa untuk menggelar pertunjukan wayang. (Achmad, 2017: 168).
Setelah melalui pringgitan maka bagian selanjutnya yang akan ditemui adalah dalem ageng sebagai bagian dalam yang terpenting dalam rumah tradisional Jawa. Ruangan ini memiliki bentuk persegi yang dikelilingi dinding pada keempat sisinya. Dalem ageng memiliki beberapa bagian yang terdiri atas senthong tengen, senthong tengah dan senthong kiwa. Senthong tengen memiliki fungsi sebagai tempat tidur anggota keluarga perempuan, senthong kiwa berfungsi sebagai tempat tidur anggota keluarga laki-laki dan senthong tengah berfungsi sebagai tempat untuk menyimpan pusaka dan tempat pemujaan kepada Dewi Sri.
Ruang senthong tengah dapat juga disebut sebagai krobongan. Bagian bangunan ini sangat erat kaitannya dengan unsur religi atau kepercayaan. Ruangan ini digunakan sebagai tempat penyimpanan benda-benda pusaka yang bermakna gaib dan hasil panen padi pertama. Walau ruangan ini berfungsi sebagai tempat penyimpanan, tetapi ruangan ini juga dilengkapi dengan ranjang, kasur, bantal dan guling. Dengan kesakralan kamar ini, kamar ini juga difungsikan sebagai kamar malam pertama bagi pengantin baru yang dimaknai juga sebagai peristiwa kosmis bersatunya Dewa Kamajaya dan Dewi Kama Ratih (Mangunwijaya via Achmad, 2017: 168).
Di dalam rumah tradisi Jawa bangsawan Yogyakarta, krobongan berisi bermacam-macam benda lambang yang mempunyai arti yang sakral. Benda-benda tersebut berbeda dengan benda-benda lambang petani, tetapi keduanya memiliki arti lambang kesuburan, kebahagiaan rumah tangga yang diwujudkan dengan sosok Dewi Sri (Wibowo dkk. via Achmad, 2017: 169). Selain hiasan Dewi Sri terdapat hiasan lain yang lazim terdapat dalam krobongan yaitu patung loro-blonyo, pusaka/keris, cindai/patola India, hiasan gaga, dan hiasan burung garuda (Djono, dkk., 2012: 275)
Hiasan loro-blonyo adalah patung mempelai pria dan wanita yang terkenal dalam adat Jawa. Patung ini biasanya diletakkan di depan krobongan. Patung ini melambangkan kebahagiaan suami istri dan juga sebagai lambang kesuburan.
Pusaka (keris, tombak, dll) yang merupakan benda suci dan sakral akan diletakkan di tempat yang suci sebagai tempat penghormatan atas benda suci tersebut.
Kain cindai/patola India adalah penutup tempat tidur, bantal dan guling di dalam krobongan. Karena memiliki pola yang sarat dengan makna Hindu (pola jlamprang dan cakra-senjata Dewa Wisnu dan delapan tataran yoga), kain ini dianggap memiliki kesaktian dan keberadaannya pun dikeramatkan sehingga ikut disimpan dalam krobongan.
Hiasan gaga adalah hiasan berbentuk naga yang muncul setelah mendapat pengaruh Hindu. Berdasarkan kepercayaan neolitikum dan cerita Mahabarata, ular selalu dikaitkan dengan air sehingga hiasan ular pada krobongan merupakan simbol harapan agar dalam bertani tidak akan kekurangan air.
Hiasan burung garuda merupakan simbol penyeimbang dari hiasan naga atau ular yang melambangkan dunia bawah. Sosok garuda melambangkan dunia atas. Selain itu, burung garuda mengingatkan pada cerita Gurudeya. Burung garuda yang merupakan anak Winata menyelamatkan ibunya dari perbudakan dan menjadikan para dewa tidak mati. Dalam cerita tersebut, burung garuda menjadi sosok pemberantas kejahatan dan hal inilah yang diharapkan sehingga hiasan burung garuda diletakkan pada krobongan.
Ruangan sakral tempat menyimpan benda-benda pusaka yang dipercaya memiliki kekuatan magis dikaitan erat dengan paham Hindu dan juga zaman neolitikum. Keberadaan krobongan menunjukkan dunia orang Jawa yang tidak dapat dipisahkan dari pemahaman tentang keseimbangan kosmis. Keseimbangan kosmis dibangun di atas pemahaman yang selalu dalam bentuk dualitas, siang-malam, panas-dingin, utara-selatan, dan laki-laki-perempuan. Selain itu terdapat makna simbolik yang mengacu pada mata angin yang berjumlah 3, 4, atau 5.
Ruangan paling belakang dari bangunan joglo dinamakan gandhok yang memanjang di sebelah kiri dan kanan pringgitan dan dalem ageng. Selain itu, terdapat juga pawon yang berfungsi sebagai dapur dan pekiwan yang berfungsi sebagai toilet. Ruangan tersebut terpisah dari ruangan utama dan ruangan yang bersifat sakral. Pembagian ruang pada rumah joglo simetris dan menggunakan pola closed ended plan yaitu simetris keseimbangan yang berhenti dalam satu ruang yaitu senthong tengah (Indrani via Achmad, 2017: 169-170)
Eksistensi bangunan Joglo tidak sekedar indah karena bagian-bagain arsitektur dan nilai filosofis di dalamnya tetapi ukiran-ukiran yang turut menghiasi bangunan rumah ini juga memiliki hal yang menarik untuk dibahas. Dalam bangunan Joglo ada beberapa jenis ukiran yang lazim ditemui antara lain wajikan, banyu netes, lung-lungan, patran, dan gunungan.
Wajikan adalah ukiran yang memiliki bentuk dasar menyerupai ketupat yang di tengahnya terdapat ukiran bunga-bungaan. Hiasan ini merepresentasikan empat arah mata angin. Banyu netes adalah ukiran yang berbentuk menyerupai tetesan air yang bentuknya terinspirasi dari tetesan air hujan. Lung-lungan adalah ukiran yang berbentuk seperti tanaman bunga menjalar yang memiliki makna kesuburan. Patran adalah ukiran berbentuk daun-daunan yang dibuat berjajar rapi dan bersusun. Gunungan adalah ukiran menyerupai gunung dan hutan yang melambangkan alam semesta dan bermakna kedamaian, kemakmuran, dan kententraman (Aqtami, 2016).
Eksistensi bangunan tradisional diharapkan tidak akan pernah punah terkikis zaman. Eksistensi bangunan tradisional merupakan bentuk pemikiran dan doa leluhur yang bisa kita sentuh dan nikmati hingga kini. Saya berharap melalui hasil tulisan ini, warisan kebudayaan dapat terus dijaga dan dikasihi.
Terima kasih sudah membaca!
DAFTAR PUSTAKA
Achmad, Sri Wintala. 2017. Filsafat Jawa. Yogyakarta: Araska
Kartono, J. Lukito. 2005. Konsep Ruang Tradisional Jawa dalam Konteks
Budaya. Dimensi Interior Vol. 3 No.2 Desember 2005, hal. 124-136.
Aqtami, Azkadia. 2016. Kajian Penelitian Rumah Joglo. Seni dan Kriya Vol. 1, No. 1, Januari-Agustus 2016
Djono., Utomo, Tri Prasetyo., & Subiyantoro, Slamet. 2012. Nilai Kearifan Lokal Rumah Tradisional Jawa. Humaniora, Vol. 24, No. 3 Oktober 2012: 269 - 278
Komentar
Posting Komentar