[CERPEN] Ini Bukan Perkara Janji

 

Aku jadi berpikir, memangnya bisa pikiran manusia menjangkau dunia yang tidak terbatas ini? Menyerap semua ilmu kenyataan beserta rahasia-rahasia alam. Batas-batas buatan justru yang membuat manusia bisa sedikit lega tentang hidupnya. Bayangkan saja, kalau seseorang hendak serius memahami hidupnya, sampai ia mati pun sebagian dari hidupnya belum tentu habis diungkap. Bisa jadi bagian itu baru akan ditemukan oleh anak, cucu, cicit, atau bahkan orang lain.

Mengapa harus ada batas yang justru membuat manusia jadi merasa hebat karena telah tahu segala, padahal semesta tak ada batasnya? Ah, bicara apa aku. Repot-repot pula aku mengurus semesta yang bahkan hanya jadi tempatku numpang. Padahal, sekali lagi, batas-batas yang dikarang oleh manusia itu memang perlu, setidaknya untuk rasa lega.

Eh ... aduh! Rasanya aku mulai takut. Panggilan teleponku ternyata sudah berakhir. Kami tadi sibuk membicarakan kedai kopi yang kemarin buat tempat kencan, kemudian tiba-tiba aku melamun dan berpikir aneh-aneh. Sialan, apakah tadi barusan aku mendiamkan pacarku? Ada pesan masuk darinya yang bilang bahwa ia harus tidur karena besok hari Senin. Huh... sungguh tidak biasa untuk seorang jelmaan zombie yang jarang tidur. Tapi, sebenarnya dia yang menyuruhku untuk tidur. Dia tahu bahwa aku tidak bisa diganggu kalau sudah zoning out begitu.

“Maaf ya, aku malah diemin kamu.” Aku memberi emoticon sedih sebagai rayuan agar pacarku tidak marah.

“Gak apa-apa. Kamu capek, tuh. Tidur sana Kebo, hus hus hus.” jawabnya. Tidak, dia tidak marah. Memang gaya bicaranya saja yang menyebalkan begitu.

Sebenarnya aku tidak bisa tidur. Padahal hampir seharian aku menghabiskan waktu dengan pacarku. Siang sampai malam kencan, lalu masih lanjut kencan via telpon. Bukan karena kami no life, tapi memang hanya sempat kalau hari libur begini. Seharusnya badan sudah cukup lelah dan hati sudah cukup lega. Tapi kenyataannya tidak. Pikiranku masih belum tenang.

Akhir-akhir ini aku bermimpi aneh. Aku sering bermimpi mengobrol dengan seorang laki-laki. Obrolan kami seperti teman lama yang tidak begitu akur. Aku ingat betul sosoknya. Dia laki-laki berambut gondrong dengan baju hitam dan celana jeans. Tampilannya jauh dari kata rapi walau tampangnya cukup enak dilihat. Wajahnya terlihat familier, tapi aku tetap merasa asing. Aku ingat pertama kali bemimpi tentangnya minggu lalu saat aku tertidur karena kelelahan bekerja.

“Kamu terbangun dari tidur panjang.” Aku disambut oleh suara lembut ketika aku terbangun di tempat yang seperti taman di belakang gedung tua.

“Aku sudah mati?” Jelas aku mengira demikian. Aku masih ingat kalau seharusnya aku tepar di depan laptop yang masih menyala. Tapi justru aku terbangun di rerumputan. Aku tidur di atas rerumputan. Anehnya, aku tidak merasa jijik.

“Bukan tubuhmu sih yang mati, tapi jiwamu.

“Kamu baru saja bilang kalau aku mati, ’kan?” Dengan jawabannya yang enteng begitu, jelas aku jadi kesal. Apalagi, aku baru saja bangun.

Jiwamu.”

“Apa maksudmu sih!?”

Kamu lupa siapa aku, kamu lupa siapa dirimu. Dengan kata lain, kamu sudah mati.”

Belum sempat protes dengan kata-kata tidak jelas barusan, rangkulan dan senyumnya justru membuatku memilih diam dan menatapnya baik-baik. Ini aneh, rasanya seperti bertemu teman lama. Aku tidak langsung kabur saat bertemu dengannya. Tapi, di sisi lain aku merasa dipermainkan. Mana ada orang mati, tapi tidak mati? Mungkin saja kalau aku vampire atau zombie. Tapi aku ini manusia biasa yang baru saja tepar karena pekerjaan! Ah, yang jelas gayanya sok keren. Memangnya sopan ngatain orang seperti itu? Memangnya dia kenal siapa aku? Mungkin dia salah sambung. Apalagi aku tahu seharusnya aku tidak di sini. Aku tahu betul kalau aku berada di alam mimpi.

Mimpi berikutnya muncul sehari setelahnya. Saat itu, aku sendirian di kamar. Semua orang sedang sibuk, kecuali aku. Aku hanya menyibukkan diri dengan bernyanyi sendirian sampai akhirnya aku tidur karena kelelahan.

Hal pertama yang kuingat dari mimpi itu adalah hujan deras dan sebuah emperan toko yang sudah tutup tempat kami bersandar dan berteduh. Terkadang aku berpikir bahwa bermimpi itu seperti sedang ada di dalam sinetron mengingat betapa alay dan dramatis latarnya.

Kamu. Kamu sepertinya butuh ditemani.” ia membuka pembicaraan. Dia tahu betul aku tidak akan membuka percakapan duluan.

“Aku bisa sendiri.” Aku bergeser sedikit agar tidak terlalu dekat dengannya. Aku risih saat tahu dia lebih tinggi dariku dan harus menunduk untuk memandangku. “Aku juga tidak kesepian. Aku punya teman, bahkan pacar. Lagian, memang kita tidak akan pernah lepas dari kesendirian kan? Bukannya besok mati juga akan sendiri?” Aku melihat ke arah lain. Aku sendiri heran mengapa aku jauh lebih jujur saat ada di alam mimpi. Sejujurnya konsep kematian yang sendirian itu sangat mengerikan bagiku.

Kamu gak belajar agama ya? Iya sih, kerjamu hanya tidur saja.

“Hah?!”

Kalau kamu belajar agama, kamu gak akan percaya kesendirian walau kamu memang sendirian.

Sungguh, aku nggak mood sama sekali! Seenaknya menilai, seenaknya menyimpulkan. Bisa-bisanya di dalam mimpi ada yang mengajakku debat. Walau aku akui memang saat sekolah sering tidur saat pelajaran agama, sih. Tunggu ... tahu dari mana dia? Aku semakin curiga dengannya. Tapi sejujurnya, pertemuan yang singkat di mimpi ini justru membuatku tenang saat terbangun. Dia mengingatkanku secara tidak langsung bahwa rasa sepi itu sangatlah wajar. Aku ... memang harus menghadapi sepi itu.

Mimpi berikutnya terjadi tiga hari kemudian. Saat itu, aku tertidur di mobil saat perjalanan jauh. Yah, lagi-lagi urusan pekerjaan. Saat itu, aku hanya ingat ruangan putih tanpa perabotan yang hanya ditempati kami berdua. Kali ini, kami bertemu di ruangan putih di alam mimpi.

“Memangnya kamu tahu apa tentang diriku? Memangnya kita pernah kenalan? Tidak? Tentu saja tidak. Sekarang pun untuk berkenalan dengan orang macam dirimu rasanya sudah malas duluan. Kesan pertamanya sudah tidak menyenangkan.” tanyaku sewot. Memecah keheningan dengan suara ala ibu-ibu ngomel.

Untuk apa berkenalan terus-terusan kalau pada akhirnya kamu sebenarnya memang mengenalku.”

“Tidak usah bercanda. Gak lucu.”

Nggak, serius. Aku tidak pernah mengenal dia, tahu pribadinya, cium aroma tubuhnya, atau bahkan bersanding bersamanya. Kurasa aku hanya bermimpi aneh karena stres yang akhir-akhir ini agak bikin halu. Ini semua pasti hanya settingan kepala gila yang terlalu banyak kafein.

Jangan menyangkal, aku jadi sedih loh. Masa tidak rindu denganku? Aku sudah sulit-sulit datang lho.” Ia bertanya dengan nada genit. Bukan berarti aku suka, justru aku makin kesal.

“Mau sedih, mau jungkir balik aku juga nggak urus.”

Galak banget, sih.

“Memang.”

Sejujurnya, sisi dalam bawah sadarku berusaha mencari pecahan memori yang hilang. Katanya, kalau kita bermimpi tentang seseorang yang asing, kemungkinan ia adalah bagian dari masa depan atau bahkan masa lalu. Kalau ini ... aku tidak yakin yang mana. Walau sudah sering bermimpi aneh, tapi baru kali ini aku merasakan mimpi yang mirip time travel.

Jangan marah.”

“Untuk apa marah?”

Tapi kamu marah, jadi kamu yang melakukan hal yang tidak berguna.”

“Hah? Sok tahu.”

Satu-satunya hal kulakukan yang tidak berguna itu mendengarmu, Si Misterius. Kusebut begitu karena bahkan dia tidak memperkenalkan diri kepadaku. Lucunya, setiap aku ingin menanyakan namanya ia selalu hilang begitu saja. Aku langsung terbangun. Seolah aku ditendang dari alam mimpi.

Semua kelakar dan gaya sok tahunya hanya membuat otakku tidak jadi istirahat. Seharusnya aku bisa tidur dengan nyenyak dan melanjutkan hari, atau memimpikan hal lain yang lebih masuk akal. Justru setelah beberapa hari bermimpi tentang orang itu, aku jadi sibuk gelisah oleh hal yang tak jelas, hal-hal yang remeh. Tapi, memangnya hal ini sungguhan ada? Aku punya dunia nyata yang kutinggali. Seharusnya ini tidak perlu kupikirkan saat aku tersadar. Aku tidak perlu sampai membuat pacarku cemas karena akhir-akhir ini sering melamun.

Ah, aku ingat mimpiku setelah itu. Pada mimpi kali ini, aku berada di pinggiran danau tanpa ujung. Dia mengajukan pertanyaan yang cukup aneh. “Hei, tanya dong, menurutmu untuk apa kata-kata ada untuk merujuk pada sesuatu, kalau sesuatu itu sebenarnya nggak ada?”

“Hiasan, mungkin.” jawabku tanpa berpikir.

Kamu percaya setan?

“Nggak.”

Terus kenapa ada kata setan di kamus, ya? Kamu pernah lihat setan?”

“Nggak, dan gak mau lihat.”

Kenapa?”

“Ya karena setan itu menyeramkan lah.”

Kalau kamu gak percaya setan, kenapa takut? Memangnya kamu bisa takut kepada hal yang tidak kamu percayai, ya?” sekali lagi aku diam tidak bisa berkomentar lagi.

Sialan. Aku tidak suka dibuat bungkam oleh pertanyaan ruwet begitu. Apapun yang kamu lakukan, aku tidak suka. Memangnya kenapa takut harus ada alasannya? Mungkin memang aku takut kepada sesuatu yang membuatku tidak yakin. Aku takut pada ketidakpastian. Padahal kata guruku, yang sudah pasti adalah ketidakpastian itu sendiri. Termasuk Si Misterius ini. Sosok yang belum bisa aku pastikan asalnya, tetapi sudah mengetahuiku sampai dalam-dalam.

Kita pernah jatuh cinta lho.” Mimpi semalam adalah mimpi yang paling kubenci karena ia dengan entengnya membuka percakapan seperti itu.

“Oh ya? Masa? Haha ... untuk apa aku repot-repot antusias.” Aku tertawa jijik. Karena jujur saja, semua hal yang merujuk pada konsep 'mantan' adalah hal yang kubenci.

Hahaha ... kamu itu sukanya memperjelas yang sudah jelas begitu. Memangnya semuanya butuh alasan? Kalau orang jatuh cinta pasti bingung menjawab pertanyaan mengapa bisa jatuh cinta.”

“Iya deh terserah! Kamu itu berpikir kalau hidup sudah kayak sinetron saja.”

Galaknya...”

“Biarin. Pergi aja lah, kamu gak jelas.”

Gak mau, aku mau lebih lama dimarahin kamu. Hahaha ... marahin aku lagi dong.”

Tidak ada yang lucu. Kamu cuma muncul di mimpiku agar aku tidak bisa lepas. Agar aku bisa terus memikirkanmu walaupun aku sudah punya kehidupanku sendiri. Datang, pergi, datang, pergi. Kalau aku sudah siap lupa, kamu malah datang lagi. Begitu seterusnya. Ini konyol, realita dan alam mimpi seolah terhubung.

“Aku tidak percaya kamu, dan cinta yang kau bawa-bawa bersamamu. Omong kosong.”

Tapi aku percaya kamu.”

“Percaya apa?”

Suatu saat kau akan mengerti maksud kedatanganku.”

“Pergi saja, aku tidak butuh kamu.”

Aku tetap tinggal. Aku janji.”

“Aku tidak butuh janjimu.”

Aku tahu, tapi aku sudah berjanji padamu.

Mimpi memiliki spektrum. Semakin terasa nyata mimpi itu, semakin kuatnya ia menggambarkan realita. Mimpi bagaikan puisi yang harus kita pikirkan baik-baik baru dapat menemukan maksud sebenarnya. Bagiku, mimpi ini adalah mimpi yang nyata, tetapi paling terasa jauh dari realita.

Ini adalah janjiku ribuan tahun lalu.”

Ah, aku tertidur lagi. Lagi-lagi aku bermimpi tentangnya. Seorang laki-lali berambut gondrong dengan kaos hitam dan celana jeans. Dia selalu datang di saat aku ada di titik terendah kehidupanku. Dia hadir dari kekosongan yang ada di hatiku. Memenuhinya dengan kekosongan yang lebih dalam selama dua minggu ini.

“Ah-.“ Aku tidak bisa bicara. Entah kenapa aku tidak bisa mengendalikan diriku seperti biasanya di dalam mimpi. Aku dipaksa diam dan menatapnya dalam keheningan.

Tak lama, ia mendekatiku. Menatapku dengan tatapan sedih. “Aku telah menepati janjiku ribuan tahun lalu untuk datang kepadamu sebagai seekor kucing.” Dia memaksakan sebuah senyum. “Kau ingin bertemu kembali denganku dengan wujud manusia, tapi aku adalah pendosa. Kau ingin aku hidup bersamamu, padahal akulah pembunuh keluargamu ... ribuan tahun lalu. Yah, aku pantas mati seperti itu.”

Hah? Omong kosong apa lagi ini. Siapa yang ingat kehidupannya di masa lalu? Ratusan tahun pun belum tentu ingat. Tapi ... ribuan?

Aku datang padamu sebagai seekor kucing. Selalu jadi kucing. Aku mati dan hidup kembali sebagai kucing.” Dia mengubah wujudnya menjadi berbagai macam kucing. Aku mengenali semua itu. Mereka adalah kucing yang selalu menempel padaku dari masa kecil hingga dewasa.

Aku hidup di masa ini sebagai kucing jalanan yang mati tertabrak, diracun, disiksa, dimangsa, dibakar dan ditikam. Rasa sakit itu kulalui agar aku bisa menjadi diriku yang sekarang ini.” Dia kembali berwujud manusia. “Semua kulakukan agar bisa masuk ke mimpimu dengan wujud pemuda yang tampan melebihi pacarmu.”

Aku terdiam, tidak paham dengan apa yang barusan kudengar. Aku bukan gadis yang paham dengan hal-hal demikian. Ini lebih memusingkan daripada deadline pekerjaan. Ini kejadian di luar nalar yang tidak masuk akal. Selama ini, kucing-kucing di sekitarku adalah dia. Tak heran, aku selalu bertemu kucing yang aneh setiap setahun atau dua tahun sekali. Kucing yang terlihat lebih peka dari kucing biasa. Aku berusaha memahami dengan logika, tapi rasanya otak bebalku tidak sampai untuk berpikir menembus dimensi dan realita.

Tapi perjanjian sesungguhnya adalah ... aku tidak boleh mengatakan hal sebenarnya padamu. Masa lalu kita, janji kita, semuanya tidak boleh kujelaskan kepadamu. Karena kau ditakdirkan untuk melupakannya dan hidup damai di masa ini.” Gambar tubuhnya perlahan menipis. Aku seolah tidak diberi waktu dan kesempatan untuk berbicara. Sosok itu hanya ingin didengar.

Aku menyia-nyiakan kesempatanku. Padahal, aku bisa mengganggu tidurmu sampai kau tua. Sayangnya, aku sudah tidak kuat lagi. Kau harus tahu siapa aku.” Gambar tubuhnya semakin tipis. “Menjadi sosok tak kasat mata yang merasuki mimpi orang yang dicintai itu ternyata tidak ada seru-serunya.”

Aku menarik napas panjang sampai terbangun. Aku bangun dengan mata terbelalak seolah habis bermimpi buruk. Yah, bisa saja yang barusan itu dihitung menjadi mimpi buruk. Selama hampir dua minggu dihantui sosok misterius yang mengaku mengenalku sejak ribuan tahun lalu. Sejujurnya aku tidak percaya, tapi yang kurasakan sangat nyata. Setidaknya pengalaman ini bisa kuolah menjadi postingan viral nantinya. Ah, ada-ada saja.

Ponselku berdering. Pacarku menelepon. Aku heran, padahal tadi dia bilang mau tidur. “Halo?”

“Sayang, aku nemu kucing sekarat di pinggir jalan. Aku harus gimana?” Pacarku menunjukkan foto kucing yang baru saja ia temukan. Dia menemukan kucing tergeletak di pinggir jalan saat pulang dari toko untuk membeli rokok. Kucing itu berwarna putih dan baru saja jadi korban tabrak lari.

Sampai nanti. Suatu saat aku akan merasuki mimpimu lagi.


Komentar