[PUISI] Suatu Perjalanan Lewat Ringroad Batas Kota


Di suatu perjalanan. Kendarai motor kesayangan. Polisi tidur bikin mengaduh. Punggungku kaku-kaku. Sudah bertahun tak berkendara jauh.

 

Di suatu perjalanan. Menikmati hembus knalpot. Dengar klakson hampir dada copot. Memandang lewat kacamata buram. Pengendara brengsek kumaki diam-diam.

 

Di suatu perjalanan. Singgah pinggir terminal. Mengantre beli bekal. Duduk di trotoar. Dekat situ orang kencing mengendap. Pantas bau tak sedap.

 

Di suatu perjalanan. Sudah mulai gelap. Berkebut kendaraan besar. Hampir saja aku terhempas.


Di suatu perjalanan. Lintasi jalan perdesaan. Jalanku disumbat truk. Lewat samping aku menyusup. Akhirnya bisa masuk. Walau rumput banyak tersangkut.

Di suatu perjalanan. Aku duduk di persinggahan. Kusantap nasi dan ayam. Kuminum soda limun. Padahal sedang asam lambung.

 

Di suatu perjalanan. Aku mandi di sendang. Banjir sepinggang. Merinding juga begini gelap-gelap.

 

Di suatu perjalanan. Aku menengadah. Kusadari gelap malam sungguhnya hasil lampu kemerlap. Lebih terang bersama kunang-kunang. Ya, kunang-kunang itu bisa tertawa.

Di suatu perjalanan. Kupanjatkan welas asih dan pengayoman luhur. Semerbak harum mengantar doa menembus langit tua.

Di suatu perjalanan. Cahaya-cahaya berbisik. Cobaan atau berkah, godaan atau tuntunan, pertanyaan atau jawaban, gagal atau berhasil seluruhnya dinamika tiada habis. Jikalau ragamu binasa, sukmamu abadi.

Di suatu perjalanan. Menuju pulang. Jalan lengang kumelaju kencang. Diantar kunang-kunang. Nikmati angin malam. Telan nasihat dalam-dalam. Berpikir ulang apa yang kulihat.

 

Di akhir perjalanan. Kuganti baju. Kurebahkan tubuhku. Sejajarkan napas dengan pejam. Melebur ke alam tidur. 

 

 

 

 

 

Komentar