Mari Bicara Soal Cita-Cita: Mimpimu Dibunuh atau Bunuh Diri?


Dekorasi berbentuk pohon terbuat dari kertas yang ditempel di tembok lazim ada di kelas-kelas TK maupun SD. Pohon itu biasanya dibuat pada awal semester oleh wali kelas sebagai media anak didik untuk memamerkan cita-cita mereka. Sejujurnya aku hampir lupa apa sebutan pohon itu, tapi kalau boleh aku memberi nama sendiri maka aku akan memberi nama pohon itu “Pohon Cita-Cita” agar lebih mudah. Kenanganku soal pohon itu ... sebenarnya tidak bagus. Baiklah, akan kuceritakan sedikit (karena kupikir dengan kalian sudah membaca entri ini berarti kalian tertarik, hehe.)

Pagi hari itu suasana kelas amat riuh. Inilah saatnya kita semua menghias kelas bersama Bu Guru! Kami semua begitu antusias untuk menghias pohon cita-cita dengan kertas berbentuk buah apel yang nantinya akan merekam cita-cita kami. Apa yang biasanya menjadi cita-cita umum bocah SD? Yah, tidak jauh-jauh dari dokter, pilot, hakim, polisi atau tentara. Tapi aku yang sejak kecil lebih suka belajar hal-hal yang berbau seni dan saat itu aku sedang semangat-semangatnya berlatih biola maka aku menulis di kertasku;

 

Nama: Afi

Cita-Cita: Musisi

 

Setelah aku puas dengan apa yang kutulis, akhirnya aku membuka perekat double tape dan segera menempelkannya ke tembok. Hari itu sebenarnya terasa biasa. Kami mengikuti pelajaran dengan antusias, kami saling bercengkrama karena sudah lama tak berjumpa. Tapi saat jam istirahat, semua terasa muram untukku.

Salah satu siswi, yang cukup terkenal akan mulutnya yang suka asal bicara, dengan lantangnya menyindirku.

 

Hah, orang kaya dia mau jadi musisi? Yang bener aja, deh! Gak akan bisa.

 

Alhasil, hanya dari satu kalimat itu usahaku untuk karir bermusikku berhenti begitu saja. Aku membuangnya karena merasa malu akan mimpi itu. Cibiran itu, membuatku berpikir bahwa apa yang kuimpikan saat itu salah dan aku tidak berhak bermimpi demikian.

Bisa jadi itu memang salahku karena terlalu memikirkan perkataan orang lain, tapi sejujurnya memang aku yang lemah. Apalagi saat itu aku masih bocah. Pada dasarnya aku bukan berasal dari keluarga seniman, rata-rata dari mereka bekerja di bidang eksakta. Ketika aku menyadari bahwa aku berbeda karena menyukai hal-hal noneksakta, di situlah aku menyadari bahwa aku kurang dukungan.

Setelah kejadian itu, pada pohon cita-cita berikutnya aku mulai sama dengan kebanyakan temanku yang lain; menuliskan dokter sebagai cita-citaku.

Fenomena ini tentu saja bukan hanya aku yang mengalami. Di luar sana banyak anak-anak bahkan orang dewasa yang mimpinya terbunuh oleh keadaan. Maka, seperti judulnya, aku ingin bertanya. Kawanku, mimpimu dibunuh atau bunuh diri?

Menurutku, di negara Asia khususnya di Indonesia, society masih terlalu berkiblat pada pandangan lama. Ada beberapa pekerjaan yang selalu dianggap superior, dan pekerjaan lain yang dianggap tidak bergengsi.

Biasanya tekanan ini justru paling banyak berasal dari lingkungan keluarga. Keluarga atau kelompok di manapun kalian tumbuh pasti akan menginginkan seorang anak di lingkungannya memiliki identitas yang sama dengan mereka. Karena kita sedang berbicara mimpi yang dalam hal ini lebih merujuk pada cita-cita maka akan aku persempit menjadi identitas yang muncul dari profesi.

Mari kita buat ilustrasi untuk kasus ini. Keluarga yang sudah membentuk semacam “dinasti” lulusan kedokteran misalnya, akan menekan anak-anak generasi berikutnya untuk mengikuti jejaknya. Hal itu di sisi lain akan sangat memudahkan mengingat channel dalam mencari kerja di bidang kesehatan pasti akan sangat banyak. Tetapi bagaimana kalau misalnya nih, sialnya, ada anak yang justru lebih berminat untuk menjadi seniman ukir kayu daripada dokter? Wah ... wah, penghinaan itu!

Bisa jadi dia sudah sejak kecil memang dibentuk untuk jadi dokter, tapi kemampuannya sangat rendah dibanding anggota keluarganya yang lain sehingga membuat orang tuanya kecewa. Lalu muncullah masalah baru seperti anak yang kemudian dibanding-bandingkan, ditekan, atau bahkan tidak diberi kasih sayang yang SEMESTINYA jadi hak semua anak. Lalu apakah itu menjadikan dia adalah anak yang bodoh, atau dia hanya dilahirkan di tempat yang salah?

Tunggu, opsi kedua sepertinya adalah penghinaan berat pada Tuhan jadi dihapus saja. Eh, opsi pertama juga akan menjadikan aku sebagai orang yang jahat. Ya sudah, aku buat opsi ketiga saja yaitu;

 

Dia cerdas ketika dia mau menerima dirinya dan berani ambil risiko kemudian membuktikan bahwa dia adalah anak yang jenius, tapi bukan untuk jadi tenaga medis, melainkan seniman ukir kayu!

 

Tapi, sialnya, seringkali anak-anak sial seperti ini betul-betul tidak diberi kesempatan. Mungkin ada yang ingin protes padaku “hei, kan dia bisa tetap mengukir kayu sambil jadi dokter! Uang tetap banyak, hidup terjamin, hobi tetap jalan!” Tunggu dulu, Sayang. Beberapa kasus mungkin itu bisa terjadi, tapi apakah kamu pernah berpikir bahwa hal itu justru bisa jadi sebaliknya, anak itu malah membuang keduanya?

Manusia memiliki kapasitasnya sendiri-sendiri. Ketika hidupnya ditekan terus-menerus bisa jadi dia akan terlihat kuat. Strong. Tapi pernah berpikir tidak apa yang sebenarnya membuat dia nampak kuat? Ya! Dia berusaha membuat sejenis topeng yang menutupi emosi aslinya. Pernah tidak kalian mengisi balon dengan air terus-terusan, mungkin pernah mungkin tidak pernah. Tapi tahu tidak apa yang terjadi? DOR! Meledak. Tumpah, basah, resah; seperti dia yang hidupnya seperti boneka atas dasar berbakti pada keluarga.

Mungkin sebagai orang tua ingin membentuk anak-anak yang baik sesuai standar mereka sendiri. Mungkin orang tua berpikir bahwa ini adalah cara anak mereka berbakti kepada mereka. Tapi maaf, Bapak dan Ibu, sebagai teman mereka justru kebanyakan anak-anak ini di belakang Anda justru jadi kasar lho! Coba ingat baik-baik, sebenarnya cita-cita anak Anda itu cita-cita Anda yang tidak tercapai atau memang panggilan hati anak Anda? Maaf, tapi menurutku apapun yang dilakukan dengan hati justru akan lebih terasa manfaatnya. Karena bukan sekadar melakukan pekerjaan, kita bisa naik tingkat jadi mengabdi pada suatu pekerjaan. Hayo, lebih keren mana?

Perlu saya klarifikasi, bukan berarti saya menyalahkan orang tua yang mengarahkan anaknya. Menurutku itu perlu, perlu banget malah. Di umur-umur tertentu memang anak belum ajeg pada tujuannya, maka mengarahkannya agar tidak salah menentukan pilihan itu penting. Jadi, yang terpenting adalah jangan lupakan kewajiban sebagai orang tua untuk turut memenuhi kebutuhan berupa kasih sayang bukan sekadar kebutuhan yang terkait uang.

Omong-omong soal uang, ada lagi nih tantangan yang tak kalah besar bagi Sang Pemimpi yaitu biaya. Sejujurnya hal ini bisa dipandang melalui banyak sudut pandang. Tapi aku akan membaginya menjadi dua menurut sudut pandangku: pendorong dan penghambat.

Mari kita mulai dengan sisi yang gelapnya dulu. Biaya yang terbatas menjadi penghambat kesuksesan. Bagian ini bisa kita kembalikan lagi seperti poin sebelumnya yaitu tekanan dari orang tua. Tetapi, tekanan yang dimaksud di sini bentuknya sedikit berbeda. Bukan tekanan yang memaksa anak untuk berjuang sesuai dengan keinginan orang tua, tapi justru sebaliknya: kamu diminta berhenti berjuang karena orang tua! Orang tua yang datang dari latar belakang ekonomi yang kurang biasanya sudah memiliki mentalitas gagal dan merasa apa yang dilakukan untuk bebas dari kemiskinan akan tetap terus gagal. Karena menurut mereka dengan tidak adanya biaya maka tidak ada harapan untuk mengubah nasib. Banyak mimpi anak-anak yang lahir di keluarga ini yang harus berhenti juga karena ini.

Memang kalau kita lihat dunia makin hari makin kejam. Yang kaya semakin kaya bingung bagaimana  membuang uang, yang miskin makin miskin bingung bagaimana harus makan. Secara kasat mata dan pola sudah jelas sekali bahwa lahir di keluarga berkecukupan sudah jadi keuntungan atau privilege.

 

Ada padang ada belalang, ada air ada pula ikan.

 

Di manapun kita berada, bagaimana pun kondisi kita pasti ada rezeki tersedia untuk kita. Aku percaya, tidak ada yang benar-benar kaya atau benar-benar miskin. Semua kaya dan miskin pada bagiannya masing-masing. Karena kaya dan miskin bukan hanya kata yang bisa menghitung harta kekayaan semata.

Berada di keluarga yang tidak unggul secara finansial justru meningkatkan insting seseorang untuk bertahan hidup. Kesulitan hidup justru bisa membentuk mentalitas yang kuat, dan tak jarang tubuh yang lebih kuat juga. Ada kata-kata yang cukup populer yaitu “orang miskin dilarang sakit” menurutku kata-kata ini justru menunjukkan bagaimana kekurangan bisa menumbuhkan daya juang yang lebih kuat.

Tapi tunggu dulu, di antara keuntungan dan kerugian yang kusebutkan di atas. Baik orang kaya, orang miskin atau orang biasa saja bisa benar-benar tidak akan bisa sukses oleh suatu musuh terbesar cita-cita yaitu kemalasan.

Seperti peribahasa yang kuketik besar-besar tadi, memang benar sudah ada rezeki yang tersedia untuk kita. Semua orang memiliki hambatan masing-masing, semua orang punya dorongan masing-masing pula untuk sukses. Tapi nih ya, kalau malas ya sama saja! Kamu tidak akan kemana-mana. Kamu hanya diam, meratapi nasib, tidak membuat perkembangan apapun dalam hidupmu. Kesulitan, hambatan dan cobaan ada untuk mereka yang sudah masanya berkembang. Masalah tidak akan mengambil apapun darimu lho, itu kamu saja yang merasa kehilangan! Terkadang kamu tidak sadar atau tidak mau menyadari ada perubahan dalam dirimu yang justru membentuk pribadi yang lebih baik. Itu adalah bahasa Tuhan untuk memberi sesuatu yang lebih baik untukmu.

No pain, no gain itu benar adanya. Jika ada hambatan yang besar, bisa jadi itu saatnya kamu memutar otak untuk mencoba hal yang baru. Kalau kamu tahu sudah berkali-kali gagal karena suatu cara, ya ayo cari cara yang lain! Pokoknya, jangan sampai stuck di satu masalah sampai kamu justru bikin mimpimu mati begitu saja. Ketakutan untuk mencoba sesuatu yang baru atau bahasa kerennya keluar zona nyaman tidak akan membuatmu menjadi orang yang sesuai dengan apa yang kamu cita-citakan. So, take a risk! Ambil risiko dan belajar dari risiko itu.

Nah, aku mau membuat ilustrasi lagi untuk menyampaikan poin terakhir mengenai alasan lain cita-citamu bisa mati. Aku ingin kalian (tergantung yang membaca) bisa menempatkan diri ke dua tokoh yang akan aku ceritakan nanti.

Mari kita bayangkan, kamu adalah seorang mahasiswa yang masuk suatu fakultas impianmu. Kamu bercita-cita untuk bisa berkarir sesuai dengan jurusanmu. Kamu betul-betul antusias karena finally bisa masuk kampus impian di jurusan yang sudah kamu idam-idamkan sejak jadi anak-anak. Di suatu masa kamu berdiskusi bersama para senior, mereka sudah berkecimpung lama di bidang yang kamu minati. Kamu sangat sangat sangat antusias untuk mendengar diskusi antara orang-orang hebat itu. Pada awalnya kamu senang karena bisa menambah wawasan tentang cita-citamu. Tapi oh tapi, kamu tiba-tiba merasa sangat kecil dan akhirnya insecure karena seniormu itu mulai berbicara sesuatu yang tidak kamu pahami. Semakin lama kamu semakin ditarik keluar dari pembicaraan itu. Apalagi, senior yang sebenarnya kamu kagumi justru mulai mengeluarkan kata-kata yang tidak enak yang justru terkesan merendahkan orang-orang yang mereka nilai ada di bawah mereka. Kata-kata itu mulai berkesan bahwa mereka menyombongkan ilmu mereka, bukan berniat untuk mengajakmu ikut berkembang bersama mereka. Kamu mulai merasa dirimu bodoh, kamu mulai tidak menikmati pembicaraan tentang topik itu karena kamu merasa tidak percaya diri.

Lho, lho Mbak Penulis kenapa ilustrasinya begitu? Ya karena itu juga fatal! Hai, kalian kawan-kawanku. Silakan menempatkan diri pada ilustrasi di atas. Apakah Anda mahasiswa baru yang tidak tahu apa-apa atau senior yang sudah sukses dan serba tahu? Kalau Anda lebih mengasosiakan diri pada senior di ilustrasi tersebut, saya punya saran nih. Sebaiknya, anak baru yang seperti itu diajak berbaur. Dorong antusiasme mereka dengan memberi tahu istilah-istilah yang kemungkinan tidak mereka tahu dan yang terpenting: jangan buat batas antara senior dan junior! Rangkul mereka agar bisa berkembang bersama. Anak-anak baru begitu biasanya akan mudah terusik kepercayaan dirinya. Tugas kalian tentu saja merangkul dan menjaga semangatnya agar bisa mencapai cita-citanya, jangan buat dia berpikir “mereka terlalu di atas langit, aku cuma debu di tanah.”

Dan bagi kalian yang mengasosiasikan diri Anda dengan mahasiswa. Nah, ini dia! Saatnya kalian justru harus termotivasi. Jangan hanya merasa mereka seolah sudah melayang-layang di udara dan kamu masih ngesot di tanah. Kamu justru harus jadikan energi jelek dari rasa tidak percaya dirimu itu untuk mengungguli mereka. Kalau misalnya mereka tidak berbagi sukarela denganmu, maka cari tahu sendiri. Jangan sampai rasa tidak percaya dirimu karena mereka mengalahkan rasa ingin tahumu. Tetap belajar, mereka yang hebat juga pernah payah sepertimu!

Kesuksesan itu bisa didapatkan melalui kombinasi usaha, doa dan pengorbanan. Mimpimu mampu “bertahan hidup” atau tidak tentu kembali pada bagaimana caramu memanfaatkan apa yang kamu punya dan apa yang tidak kamu punya. Jika tidak ada yang mendukungmu maka berkumpullah dengan yang mendukungmu. Penerimaan orang-orang yang tidak mempercayaimu akan lebih cepat ketika kamu sudah membuktikan bahwa apa yang kamu impikan itu baik untukmu dan bisa membuatmu bertahan hidup. Jangan musuhi orang tua atau siapapun yang kamu anggap sebagai penghambat mimpimu karena motivasi tidak hanya didapatkan dari kata-kata manis dan menenangkan tetapi juga dari kata-kata pahit dan penuh cibiran. Nah, kawanku, mari berjuang! Jangan pernah berhenti bermimpi dan belajar. Jangan lupa untuk sesekali mengambil waktu untuk bersantai juga agar tidak stres. Semoga apa yang kalian impikan bisa menjadi manfaat bagi kehidupan.

Komentar