Orang Jawa Memang Kejawen
Ilmu orang jawa di era global sekarang kerap dianggap ketinggalan zaman. Tetapi, ilmu orang jawa pada dasarnya selalu relevan walau telah melalui zaman yang terus berubah sehingga ilmu orang jawa esensinya akan selalu kekinian.
Ilmu hidup orang jawa tidak dapat diramalkan tapi bisa mendekatkan orang yang diterangi ilmu tersebut kepada Tuhan. Orang Jawa ciptaan Tuhan, tanahnya tanah Jawa, bahasanya bahasa Jawa dan minum air Jawa. Ilmu ini masa sekarang justru lebih populer disebut ilmu atau paham kejawen, tetapi sesungguhnya ilmu ini memiliki nama asli Kapitayan Taya.
Manunggaling kawula kelawan Gusti artinya apapun yang didapat oleh manusia adalah karena Tuhan yang maha kuasa, maha mulia dan maha mengizinkan. Orang yang menerapkan dengan baik prinsip itu adalah orang yang dapat menyatukan cipta rasa dan karsa. Orang yang mengimani dan mengamini ilmu harus pula meyakini bahwa Tuhan akan membawa umatnya pada arah tujuan hidup.
Orang jawa totok bernama Pujiyanto adalah salah satu dari praktisi ilmu Kapitayan Taya tersebut. Beliau telah menjadi praktisi sejak usia kelas 2 SMP sekitar tahun 70an sampai sekarang saat usianya telah menginjak kepala enam. Bapak Pujiyanto tinggal di rumah yang kental dengan unsur kebudayaan jawa yang beralamat di Grahayu (Graha Hanjawani Rahayu) yang memiliki makna siapapun yang bernaung di rumah itu mendekatkan diri ke arah yang lebih baik agar dapat selamat dunia akhirat (rahayu).
Sehari-hari beliau berperan menjadi seorang helper dan solver sebagai pengabdiannya pada sosial kemasyarakatan. Beliau berperan sebagai helper bagi orang-orang yang datang dari lintas status sosial, lintas status ekonomi, lintas jabatan, lintas agama juga lintas global. Selain itu Bapak Pujiyanto juga berperan sebagai solver yang berarti memberi solusi kepada orang yang membutuhkan bantuan baik fisik maupun metafisik. Beliau menanamkan etos “masalah sebagai peningkatan mutu hidup” yang berarti masalah tidak bikin bubrah, masalah menjadikan barokah.
Sepanjang menjalankan amanahnya, tamu yang hadir tersebar dari Sabang sampai Merauke. Bahkan pernah ada tamu mancanegara yang tertarik dengan kebudayaan Jawa berasal dari Cina dan Jepang. Selain itu, yang cukup mengejutkan lagi, dalam menjalankan tugasnya yang sebenarnya cukup berat ini, beliau tidak menggunakan standar uang tetapi semuanya berbasis humani karena tidak profit-oriented.
Pengobatan yang diberikan berbasis kearifan lokal dengan memanfaatkan SDA dan lingkungan sehingga ramuan atau jamu tidak mahal. Ketika mengobati pasien, terdapat password tertentu yaitu “atas kuasa Tuhan, atas kemuliaan Tuhan, atas izin Tuhan” sehingga ilmunya menggunakan pendekatan yang alamiah, ilmiah dan ilahiah.
Media yang digunakan dalam melaksanakan tugasnya adalah minyak wangi non-alkohol dan dupa. Dupa adalah media untuk meningkatkan rasa manunggaling kawula Gusti karena aroma wangi dari dupa dapat mengusir serangga-serangga sehingga saat berdoa dapat fokus (out frame). Menurutnya, dupa adalah bahasa Tuhan karena di bangsa manapun ada dupa atau menyan. Tetapi seiring perkembangan zaman karena dinilai tidak praktis maka mulai digunakan minyak wangi sebagai alternatif lain.
Secara ilahiah, aroma wangi adalah aroma yang disukai malaikat karena malaikat akan hadir di tengah-tengah orang yang berdoa sejauh aroma wangi tercium oleh malaikat. Malaikat merupakan makhluk Tuhan yang paling setia yang bertugas mengamini doa manusia. Di agama manapun pula, aroma sangat disarankan dan juga masuk dalam tata cara beribadah.
Hal-hal tersebut dilakukan dengan hakulyakin untuk membantu perannya sebagai helper dan solver. Agenda lain yang dilakukan guna meningkatkan perannya sebagai helper dan solver adalah mengadakan Mujarab (permintaan doa kepada Tuhan dengan menggunakan bahas arab dan bahasa jawa). Bahasa Arab digunakan sebagai syariat dan Bahasa Jawa digunakan sebagai bahasa untuk berkomunikasi dengan Tuhan. Doa itu biasanya diadakan setiap malam Sabtu, Selasa Kliwon, Jumat Kliwon dan Minggu Pahing. Doa tersebut biasanya diikuti oleh orang-orang yang meyakini dan mempercayai dan orang-orang yang ingin meningkatkan kualitas hidup mereka. Orang-orang tersebut kebanyakan adalah orang yang telah betul-betul merasa terbantu dengan jasa Bapak Pujiyanto dan menerapkan hidup serupa.
Karena pribadi dan pengabdiannya yang begitu besar, tidak heran banyak tamu yang datang untuk mencari bantuan dan tuntunan di kediamannya, Grahayu. Budaya yang memiliki manfaat yang nyata akan selalu eksis dan tak akan pernah tergerus globalisasi. Orang jawa akan selalu jadi kejawen, karena orang jawa hidup dengan cara jawa baik mengakui dengan terang-terangan maupun diam-diam.


Komentar
Posting Komentar