Pesanggrahan Ambarrukmo: Rumah Raja yang Dikomersialkan
Bangunan yang pada masa kini dianggap kuno, dahulu juga pernah baru. Bangunan kuno merupakan saksi bisu yang masih tegap berdiri di antara kejadian-kejadian bersejarah yang terjadi di dalamnya juga di sekitarnya. Pesanggrahan Ambarrukmo salah satunya. Bangunan ini amat menarik karena di masa sekarang, situs cagar budaya ini letaknya betul-betul terhimpit oleh bangunan tinggi mal dan hotel bintang lima di Jalan Laksda Adisucipto Yogyakarta.
Setelah hampir tersasar masuk ke dalam fasilitas spa yang ada di samping bangunan ini, akhirnya saya dapat mengijakkan kaki ke dalam bangunan utama Pesanggrahan Ambarrukmo. Kehadiran saya langsung disambut dengan ramah oleh seorang petugas yang menjaga buku tamu. Menurut tanda pengenal yang disematkan pada busana jawanya, beliau bernama Momo. Saya diminta mengisi buku tamu setelah mengutarakan maksud dan tujuan saya datang ke tempat ini. Sejujurnya, tempat ini cukup sepi, kalah ramai jika dibandingkan dengan bangunan mal Plaza Ambarrukmo di bagian timur dan hotel Royal Ambarrukmo di bagian baratnya. Bangunan ini dahulu ternyata merupakan kediaman dari Sri Sultan Hamengkubuwana VII yang dibangun pada abad ke-19 tepatnya tahun 1857. Beliau tinggal di tempat ini sampai tahun 1921. Rumah ini telah menjadi saksi dari keseharian Sri Sultan Hamengkunbuwana VII dan juga kegiatan para tamu penting kerajaan. Di rumah ini pula Sri Sultan HB VII wafat.
Foto1: Saya bersama Pak Momo petugas museum
Kompleks rumah raja ini terdiri dari tujuh bagian. Bagian terluar adalah alun-alun yang merupakan tanah lapang yang cukup luas di halaman Pesanggrahan. Di masa sekarang, sebagian wilayah ini sudah menjadi lahan parkir. Kemudian bangunan yang paling awal akan ditemui saat melangkahkan kaki masuk ke dalam situs cagar budaya ini adalah bangunan pendapa. Dahulu bangunan ini digunakan untuk mementaskan tari-tarian kerajaan dan digunakan sebagai tempat untuk menemui rakyat. Di masa sekarang, fungsi dari pendapa ini tidak berbeda jauh dari bangunan pendapa pada umumnya. Bangunan ini tetap menjadi tempat orang-orang untuk berkumpul. Biasanya pendapa ini disewakan sebagai tempat melangsungkan resepsi pernikahan atau pagelaran seni.
Ketika berjalan semakin dalam, kita akan sampai pada bagian yang bernama Pringgitan, yaitu ruangan transisi atau penghubung antara pendapa dan bagian utama bangunan Pesanggrahan Ambarrukmo. Bagian utama bangunan ini dinamakan Dalem Ageng. Bagian ini di masa sekarang dialihfungsikan menjadi museum yang menyimpan berbagai koleksi. Bagi yang ingin berkunjung tidak perlu khawatir dengan harga tiket karena berkunjung ke situs ini tidak dipungut biaya apapun. Walaupun begitu, pengunjung mendapat fasilitas guide berpakaian jawa yang dapat menjelaskan dengan detail bagian-bagian dalam museum ini. Ketika masuk bagian ini, kita akan langsung disambut oleh lukisan-lukisan juga arsitektur yang amat klasik. Ruangan yang dahulu merupakan kamar-kamar telah ditransformasi menjadi tempat penyimpanan berbagai koleksi museum seperti batik, wayang dan pusaka berjenis keris dan tombak. Karena bangunannya yang sudah sangat tua dan koleksi di dalamnya yang sarat akan nilai budaya, pengunjung sebaiknya tidak bertingkah sembrono apalagi merusak koleksi.
Foto 2: Sudut yang cukup menarik
Setelah melewati bangunan utama, dapat kita temui tempat yang dahulu digunakan untuk mejamu tamu kerajaan. Di masa sekarang, Pesanggrahan Ambarrukmo telah menjadi wilayah komersial. Bagian ini khususnya digunakan untuk menjamu tamu hotel karena dikelola oleh pihak Hotel Royal Ambarrukmo dan disewakan untuk masyarakat luas. Saat saya datang, ternyata sedang ada acara dari tamu hotel. Tamu-tamu itu terlihat elegan karena memakai busana jawa yang juga disewakan oleh pihak hotel. Bahkan saya sempat mengira mereka adalah tamu kerajaan.
Sensasi makan lesehan dengan menggunakan busana jawa merupakan kelebihan yang ditawarkan. Belum lagi, catatan sejarah menunjukkan bahwa Pesanggrahan Ambarrukmo adalah bekas rumah raja. Tamu hotel dapat merasakan selama beberapa jam seolah-olah menjadi orang penting kerajaan. Selain itu bangunan klasik semacam ini tentu sangat menarik bagi pengguna media sosial untuk membuat konten yang instagramable.
Foto 3: Tamu hotel Royal Ambarrukmo
Di bagian selatannya ada tempat bernama Patehan, atau tempat membuat makanan dan minuman. Di dekatnya juga terdapat tempat yang biasa digunakan untuk latihan memanah. Kemudian tepat di atas bangunan patehan terdapat Bale Kambang. Tempat ini pada masanya digunakan sebagai ruangan meditasi. Bagian terakhir dari kompleks rumah raja ini adalah Gandok Kiwa dan Gandok Tengen. Tempat ini dahulu difungsikan sebagai tempat untuk anak raja. Gandok Kiwa (kiri) sebagai tempat anak perempuan raja dan Gandok Tengen (kanan) sebagai tempat anak laki-laki raja.
Foto 4: Bagian dalam museum
Kunjungan singkat saya ke tempat ini menyisakan beban yang cukup berat terasa di pundak saya. Bangunan mal dan hotel yang menghimpit bangunan ini menunjukkan bahwa semakin lama, manusia semakin ingin membuang jauh-jauh rekaman sejarah yang ada. Bangunan yang sangat berwibawa kini jadi kalah tinggi dan kalah menonjol. Walaupun di sisi lain, ini adalah salah satu cara untuk melakukan perawatan dan pelestarian cagar budaya. Saya hanya bisa berharap, berabad-abad ke depan, jangan sampai bangunan-bangunan sebagai saksi sejarah semacam ini semakin terpinggirkan apalagi hilang.




Komentar
Posting Komentar